Intervensi Orangtua pada nilai anak

Sebagai pengajar saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak bisa menilai potensi peserta didik. Selalu terekam jelas dalam benak Saya, ungkapan yang disampaikan Dee Lestari ketika ditanya mengenai kepiawaiannya membuat Trilogi. Saat itu Dee Lestari menyatakan bahwa guru Bahasa Indonesia nya pun hanya memberikan nilai standar, tidak istimewa menurutnya.

Oleh karena itu, selalu saya tekankan kepada peserta didik untuk tidak terpaku pada nilai yang tertulis di rapor. Entah itu nilai yang baik atau nilai yang jelek. Karena menurut saya, dengan pengalaman dan wawasan yang terus dikembangkan, peserta didik akan menguasai materi yang saat ini mungkin ditakutinya.

Maka ketika saya menerima pesan dari orangtua yang menyiratkan kekecewaanya akan nilai yang tertulis di rapor, saya terhenyak. Tidak percaya dan seolah ingin menghilang dari dunia. Apalagi ketika saya melihat data yang saya miliki. Anak itu memiliki nilai harian yang bagus menurut saya, di atas rata-rata karena memang rajin mengerjakan tugas. Kelemahan yang dia miliki ialah bahwa nilai PTS dan PAS nya amat jauh dari KKM. Jadi ketika computer mengakumulasi, hasil akhirnya mungkin tidak memuaskan.

Peristiwa ini menurut saya terjadi dalam berbagai bentuk, seperti misalnya pemberian hadiah kepada guru dan wali kelas. Sebagai manusia, kodrat manusia yang baik ialah selalu mengingat kebaikan yang diterimanya dari orang lain, seperti juga akan selalu mengingat kejahatan yang pernah dilakukan seseorang. Pemberian hadiah sedikit banyak memiliki pengaruh terhadap nilai yang didapatkan anak.

Lalu, tidak bolehkah memberikan hadiah atau ungkapan terima kasih kepada guru dan wali kelas?. Menurut Islam, berterima kasih kepada manusia merupakan salahsatu wujud bersyukur kepada Allah. Rasulullah SAW bahkan menganjurkan saling memberikan hadiah, agar hati menjadi lembut sabdanya. Rasulullah juga mempraktekkannya dalam mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau terkenal amat pemurah.

Jadi, seyogyanya pemberian hadiah dilakukan ketika akhir tahun. Ketika hasil akhir telah diterima. Baik ataupun buruk, karena sejatinya pemberian hadiah itu bukan karena nilai yang diberikan tetapi sebagai ungkapan terima kasih atas bimbingan dan arahan yang telah dilakukan.

Pendidik juga harus memiliki komitmen yang tinggi, menilai sesuai kemampuan anak pada saat ini dengan penuh integritas. Tidak terpengaruh oleh hadiah atau pemberian yang diberikan orangtua.


You Might Also Like

0 komentar