Ahad lalu family time
kami diawali dengan sedikit prahara. Jilan, putri pertama kami meminta ke G******A.
Tetapi ketika abahnya sudah siap mengantar, Jilan merasakan PMS yang luar
biasa. Jilan tak mampu untuk bangkit dan memilih untuk terus berbaring. Padahal
adik-adiknya sudah siap dengan kekuatan penuh untuk menikmati agenda jalan-jalan
ke mall yang di luar jadwal kebiasaan. Di akhir pekan, agenda kami biasanya
hanya mengunjungi nenek di hari Sabtu. Hari Ahad digunakan untuk siap-siap
kegiatan menyongsong pekan depan, seperti mencuci baju dan menyetrika.
Karena Jilan membatalkan
agenda ke toko buku, pilihan yang tersisa hanya ke MTC. Mall yang paling dekat
dari rumah. Selain dekat, MTC juga memiliki fasilitas yang lengkap. Destinasi pun
harus berubah, pilihan dijatuhkan untuk menonton Dumbo di bioskop.
Ketika kami tiba, jam
tayang masih sekitar 1 jam lagi. Kami mengisi waktu menunggu dengan menikmati
kuliner yang tersedia di Metro kitchen. Beraneka ragam makanan tersedia, tapi
karena sudah makan siang, saya memilih baso tahu, sedangkan suami memilih pempek
Palembang. Kedai nya bernama Kedai Rama.
Menurut saya, soal rasa
tidak terlalu istimewa - entah karena saya masih kenyang. Mungkin pas lah
dengan harga yang yang harus dibayar. Putri bungsu kami yang biasanya
bersemangat menikmati baso tahu juga tampak ogah-ogahan. Akhirnya saya putuskan
mencari sosis bakar kesukaannya.
Kami menemukan kedai sosis, untuk ukuran
sedang harganya Rp. 15.000 sedangkan ukuran besar Rp. 20.000. Saya memilihkan
sosis ukuran sedang, sementara suami tertarik dengan kedai yang menawarkan mie
kocok di sebelah kedai sosis dan seblak.Saya memesan mie kocok
biasa seharga Rp. 25.000. Ternyata rasanya enak sekali, mungkin karena suami
yang membumbui. Lebih segar dari pempek yang saya coba barusan.
Waktu tinggal beberapa
menit lagi, kami pun bergegas menghabiskan makanan dan segera menuju CGV.
Jasmine mengambil pesanan popcorn dan milonya. Kami harus melewati ticket checker,
sementara aku bergegas menuju ke kamar mandi. Tidak mau kenyamanan menonton
terganggu karena hasrat ingin pipis. Keluar toilet, aku berdiri kebingungan. Di
studio berapa ya harusnya kami menonton? Tadi lupa menanyakan di studio berapa
kami akan menonton. Tak lama terdengar suara keras Jasmine memanggil. Wajahnya menyiratkan
kecemasan yang teramat sangat. Ternyata Jovita juga harus membeli tiket. Jadi Abahnya
mengantri tiket lagi. Jasmine tampak menyesali, kenapa tidak mengetahui hal
tersebut sedari tadi. Aku mencoba menenangkannya, menegaskan bahwa bila ini
yang memang harus dilalui ya dijalani saja.
Lumayan lama juga kami menunggu, untuk kemudian bisa masuk ke bioskop tepat ketika film dimulai. Jasmine berjalan
di depan, dan menuntun adiknya ke tempat duduk yang salah. Abahnya mengambil
inisiatif mengarahkan. Sepertinya tidak seluruh kursi terisi. Dalam gelap kami
melangkah mencari kursi yang sudah ditentukan, yang bisa dilalui dengan mudah.
Tidak mudah mengajak
Jovita (5th) menonton. Beberapa kali dia menanyakan kapan film akan
selesai. Insiden tumpahnya popcorn juga terjadi di tengah ketakutannya melihat
beberapa adegan yang sebenarnya tidak begitu menakutkan. Mungkin karena pengaruh
audio yang begitu keras.
Setelah menonton, kami
melanjutkan perjalanan menuju Jatinangor. Mengantar Jilan yang harus kembali ke
kost, untuk kuliah besok. Perjalanan terhitung lancar, mungkin karena hari
telah beranjak magrib. Jalur Cibiru- Jatinangor yang terkenal padat, kami lalui
tanpa kendala.
Karena waktu makan malam
telah tiba, suami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Sayang kami
tidak bisa masuk ke Jatinangor Town Square, parkiran meluber sampai ke bahu
jalan. Bergerak perlahan, akhirnya suami memilih rumah makan Sunda.
Parkiran yang luas tampak
sepi, padahal ada rumah makan dan coffe shop. Tetapi ketika kami masuk ke rumah
makan, ternyata banyak pengunjung yang sedang menikmati makan malam. Rumah makan
itu amat luas, dengan pilihan area yang beragam. Bahkan anda bisa menikmati hidangan
sambil lesehan.
untuk hidangan, Jilan memilih soto Bandung sementara Jasmine berkutat dengan udang asam manis. Abah tampak lahap menyantap jambal yang berhias petai hijau. Untuk minuman, Jasmine memilih coklat panas, cocok untuk menghangatkan malam yang mulai terasa dingin. Dari semua yang dihidangkan, hanya nasi yang ludes tak bersisa, yang lainnya harus kami bawa pulang.
Fasilitas toilet dan cuci tangan tersedia
di bagian depan. Mushola tersedia di bagian belakang, lengkap dengan kamar
mandi dan tempat wudhu. Bagian yang berundak bisa anda lewati ketika menuju
mushola.
Hari semakin larut, di tengah
rintik hujan Jilan memutuskan menggunakan angkutan online untuk pulang ke kost.
Kami pun langsung menuju tol Buahbatu






