Satu diantara
banyak hal yang tidak saya temukan dalam pendidikan umum dibanding pendidikan
agama ialah taswiran atau ngaleseng.
Ketika kenaikan
kelas, siswa dituntut untuk naik ke panggung dan melafalkan beberapa hal yang
telah diajarkan gurunya. Mungkin sebagai bukti bahwa siswa tersebut telah
berhasil mengikuti proses pembelajaran. Hasilnya ya seperti yang terlihat di
panggung.
Suatu hari, ketika
pulang Euli membawa secarik kertas. Dari bu guru, kata Emak. Harus dihafal.
Isinya :
Ass. Wr. Wb (dalam tulisan arab)
Nama:
Binti:
Alamat:
Berdirinya saya di sini akan menyebutkan nama-nama hari
dalam seminggu
Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jum’at
Sabtu
Minggu
Cukup sekian dari saya terima kasih. Ass. Wr. Wb.
Akhirnya siang itu
ditutup dengan latihan taswiran.
Nama saya: Jasmine
Arya Ramadhani
Binti : Dida Aryadita
Alamat: Maja Tajur
Berdirinya saya di
sini akan menyebutkan nama-nama hari dalam seminggu. (dan Euli mulai
bernyanyi) senin, selasa, rabu kamis, jum’at, sabtu, minggu itu nama-nama
hari.............
“Coba Euli sendiri”
Euli berdiri, dan
mulai berlatih :
Nama saya : Arya
Jasmin Aryadita Dani
Binti : Dida
Aryadita Dani
Alamat : Maja Tajur
Berdirinya saya di
sini akan menyebutkan nama-nama hari dalam seminggu.........
Kesian dari saya
terima kasih
Euli berlatih
ketika mau tidur, mau makan, mandi bahkan ketika nonton tv. Ketika bosan, Euli
merajuk. Abah menyetel mike, supaya Euli berlatih dengan sempurna.
Hari H pun tiba.
Serangkaian pidato
panjang menjemukan. Jam telah beranjak dari pukul 10 pagi. Euli sibuk menyusun
puzzle yang baru dibeli dari pedagang dadakan. Tapi tak lama kemudian matanya
sibuk mencari-cari. Tukang balon.
Balon di tangan.
Murid RA sudah mulai
dipanggil naik panggung. Dengan balon di tangan euli berlari ke belakang
panggung. Tet.... tet bunyi balon.
Lama menunggu, nama
Euli belum jua dipanggil.
“Pulang bu, pengen
bobo” rengeknya.
“Euli mau kado ga?,
kalo pulang ga dapet kado lho” jawabku berharap ia membatalkan keinginannya
untuk pulang. Aku sudah berkorban banyak untuk hadir di sini, pekerjaan dan
uangku. He..he...
Matanya melirik
bungkusan snack, yang diberikan pada anak yang telah tampil di panggung
memamerkan hafalannya.
“Tapi Euli ngantuk,
pengen bobo” rajuknya.
Aku mengintip
daftar nama siswa yang akan dipanggil.
Duh, nama Euli ada
di urutan ketiga dari bawah.... bakal berat nih perjuanganku. Bisa-bisa Euli
ngamuk duluan.
“Naik panggung
dulu, kalo dah dapet kado kita pulang”
Euli naik ke
panggung, bergelayut di pantat bu guru............ dan berbisik.
Tak lama, bu guru berbalik
dan berkata pada rekannya, “Euli dulu”
Aku membatin, apa
yang kau bisikkan pada bu guru nak?
Aku tidak berani
meminta, tapi Euli bisa menyampaikan keinginannya dengan baik.
Euli naik panggung.
Macet di kata-kata awal dan ditutup dengan: kesian dari saya.
Tapi all is well.
Semuanya sempurna.






0 komentar