Mustain


Satu lagi oleh-oleh Euli dari sekolah ialah kemampuannya melafalkan surat al Fatihah. Bila teteh-tetehnya bersiap mengaji, dengan semangat 45 ia juga mengambil iqro atau majmu syarif. Dan dengan percaya diri melafalkan surat al Fatihah.

Suaranya kencang, lebih kencang dari tape stereo. Bacaan basmalahnya juga fasih dan lengkap. Tapi yang sering membuat kami tertawa ialah bahwa Euli selalu meninggalkan ayat pertama dan kedua. Jadi, setelah membaca basmalah ia langsung membaca “maaliki yaumiddin”.
.
Karena sudah hafal dengan kebiasaannya, kami selalu bersiap-siap menyambung dengan ayat pertama setelah ia membaca basmalah. Dan dengan bantuan itu, sempurnalah surat  Fatihah ia lafalkan.

Tapi kesempurnaan itu baru dari segi jumlah ayat, bukan dari bacaan. Masalah bacaan “ra” mah sudah pasti, karena ia masih cadel. Tapi yang mengganggu, euli terbiasa melafalkan  “ihdinas shirotol mustain”

Pertama kali mendengarnya aku langsung teringat teman waktu kuliah dulu.

Anak betawi asli yang tinggi besar dan lucu.

Dia menulis namanya Musthank. Mungkin lebih mewakili jiwa mudanya. Padahal menurutku lebih keren Mustain. Matanya lebar. Yang  membuat aku sering tertawa sendiri ialah matanya yang lebar itu sering menipu. Garang, padahal sebenarnya pelawak. Orangnya lucu abis, banyak lelucon dengan bahasa Betawi yang khas.

Walau mengingatkan pada hal yang lucu. Tetap saja harus dikoreksi. Tidak hanya karena takut Allah ngambek (padahal Allah ga pernah ngambek) tapi karena sedikit-sedikit aku pernah belajar bahasa Arab dan suka baca juz amma yang ada terjemahannya, jadi aku tahu apa yang Euli lafal artinya ga nyambung banget gitu lho.

Susah payah euli mencoba mengikuti bacaanku. Aku terus mengulang-ulang. “mustaqiim, mustaqiim”. Hebatnya euli, ia tidak mengeluh dan tetap mengikuti bacaanku. Walau akhirnya ia kembali pada bacaan semula, ihdinas shirotol mustain................

You Might Also Like

0 komentar