"Harus naik miss? "
Pesan WA ini sukses menginterupsi persiapan Idul Fitri 1441 H saya. Terbiasa berhati-hati menghadapi makhluk Tuhan yang satu ini, membuat saya berancang-ancang memasang kuda-kuda. Memikirkan berbagai alternatif komentar untuk menjawab pertanyaan yang telah dilontarkan.
"Emang mau tinggal kelas? " Ketik saya.
Tanggapannya sungguh mengejutkan, dia siap tinggal kelas. "Daripada ga ngerti, miss" Alasannya. Dia merasa pola Pembelajaran Jarak Jauh yang dijalankan selama pandemi Covid-19 menyulitkannya. Dia tidak bisa memahami soal dan bentuk penugasan. Dia stress. Hal ini sesuai dengan informasi dari orangtua. Ketika dia tertekan, dia pernah membentur-benturkan kepala ke dinding dan mengamuk.
Sumber gambar : dokumentasi Khumaira Maharani Solhan utk PJJ SMPN 48 Bandung
Percakapan ini membuat saya memahami, mengapa tugas yang saya minta tak kunjung dia setorkan. Padahal bukan tugas yang terlalu sulit. Petunjuk sudah saya sampaikan berkali-kali. Demikian juga kesempatan untuk berdiskusi.
Rupanya dia mencari alasan untuk mengulang. Padahal 1 semester setengah telah terlewati. Layakkah?
Saya tutup percakapan dengan meminta izinnya mencari informasi. Saya biarkan dia juga berfikir ulang. Karena kalau saya langsung memutuskan hal yang tidak sesuai dengan pendiriannya pasti ia akan menentang.
Berikut hal - hal yang saya lakukan :
- Mencari 1000 alasan bahwa dia layak mengulang.
Tahun ini adalah tahun kedua kami belajar Bahasa Inggris bersama. Menurut pengamatan saya, dia tidak menyulitkan.
- Kehadiran lebih dari cukup, jarang absen. Aktif di OSIS & teater.
- Kemampuan berbahasa cukup, tugas juga dikerjakan.
- Sikap baik, bukan siswa yang termasuk trouble maker atau malas.
Kesimpulan : Tidak ada alasan yang cukup kuat untuk dia tinggal kelas.
2. Berbagi percakapan di grup institusi.
Hal ini saya lakukan dalam rangka mencari kemungkinan jawaban dan informasi yang mungkin dimiliki oleh rekan sejawat terkait yang bersangkutan. Jawaban yang saya dapatkan tidak secara spesifik, karena saya juga tidak menceritakan secara utuh peristiwa. Saya juga tidak menjelaskan latar belakang yang mungkin menjadi alasan peristiwa ini terjadi. Tapi ternyata feedback yang saya dapatkan cukup melegakan.
Sebagai institusi, kami sepakat bahwa situasi pandemi covid-19 ini adalah situasi yang tidak diprediksi sebelumnya, darurat. Dan bahwa kebersamaan selama sebelum pandemi diharapkan cukup untuk mengenali karakter siswa. Maka menilai pun akan dimulai dengan Bismillah.
Karena kesibukan persiapan hari raya, saya baru bisa mengontak ibu yang bersangkutan tengah malam. Qadarullah, beliau juga belum tidur. Saya sampaikan kronologis, kekhawatiran, dan pendapat saya mengenai situasi yang dihadapi. Karena keinginan tinggal kelas juga berkaitan dengan kisah kakek yang bersangkutan, saya minta sang ibu menjalin komunikasi dengan sang kakek.
Keesokan hari, saya hubungi dia kembali. Saya sampaikan pendapat saya. Juga menanyakan keseriusan niatnya.
Alhamdulillah, pendiriannya sudah berubah. Dia kembali bersemangat.





