Euli yang bersekolah di usia dini ternyata membawa warna lain dalam
hidup kami. Setiap hari ada saja cerita baru yang kami temukan dan
keajaiban-keajaiban yang jauh di atas harapan kami, membuat kami ternganga. Koq
bisa ya. Euli jauh lebih mandiri dan lebih berempati apatah lagi bila dibanding
dengan kakak-kakaknya. Eit, ga boleh membanding-bandingkan anak ya?
Seperti biasa, pagi adalah hari paling sibuk bagi para ibu di seluruh
dunia. Euli yang telah bangun kembali menempati tempat favoritnya, kursi ruang
tengah. Mencoba tetap bangun walau kantuk menyerangnya dengan berleha-leha.
Tiba-tiba keluar pertanyaan dari mulutnya, “Ibu sekolah ga?”
“Ya, ibu sekolah” jawabku pendek dan berlalu meninggalkannya ke dapur.
Sarapan belum selesai kuhidangkan.
“Iih, ibu jangan sekolah. Temenin Euli aja sekolah” katanya. Aku
terpana, anak itu sudah bisa menyatakan perasaannya. Ia ingin aku temani.
Mungkin seperti teman-teman sekolahnya. Akhirnya aku memaksakan diri
mendekatinya, duduk di dekatnya. Wajahnya tepat di hadapanku.
“Ibu harus sekolah, Euli sekolah sendiri aja ya” ujarku tercekat,
sungguh aku ingin menemaninya melewati tiap detik keberadaannya di sekolah.
“Iih, ibu sekolah sama Euli aja” rajuknya. Aku bangkit, aku tahu aku
tak bisa menghadapi situasi ini. Bisa-bisa aku menangis darah. Penyesalan
karena bekerja sering menyiksaku.
“Kan ada emak, Euli pergi sama Emak ya”, jawabku sambil berjalan
meninggalkannya.
Kemudian kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Euli yang
terbiasa mandi sendiri, bisa berpakaian sendiri, mengambil sepedanya.
“Boleh ga Euli ke rumah dede Nafis” tanyanya sambil menghampiriku. Jam
menunjuk ke angka 7.
“Boleh” jawabku pendek.
“Horee, yes” jawabnya. Wajahnya mengisyaratkan kegembiraan yang luar
biasa, dan tangannya mengepal. Aku mengernyitkan dahi, aku tidak pernah
menggunakan isyarat itu dan tidak pernah mengajarinya melakukan hal itu.
Aku masih sibuk, sekarang dengan tumpukkan kertas hasil printer. Emak
sudah datang dan langsung sibuk dengan aktivitasnya di dapur. Jam merambat
cepat, sudah jam 8 pagi. Tiba-tiba pintu dapur terbuka dan suara mungil
terdengar.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatu”
“Wassalamu alaikum warahmatullahi wa barakatuh” jawabku sambil
menebalkan huruf “h” terakhir.
Semenjak
sekolah, Euli fasih mengucapkan salam. Tapi tanpa “ha” paling akhir. Sudah
berkali-kali kucoba membetulkan tapi tampaknya butuh waktu lebih lama lagi
untuk membuatnya mengatakan salam dengan benar.Memang benar, pepatah yang menyatakan belajar di waktu kecil bagai
mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa laksana mengukir di atas air.
Belajar di waktu kecil cepat dan lama nempel, tapi kalau salah, susah
diperbaiki ketika dewasa.
“Euli mau sekolah sendiri” Euli berlalu di hadapanku dan mengambil
tasnya. Tangannya cepat mengambil tempat minum, mengisinya di dispenser di
ruang sebelah, kembali ke tasnya dan memasukkan tempat minum ke sisi sebelah
tas.
“Nanti Li, Emak belum beres. Nanti sama Emak berangkatnya” Emak
berteriak dari dapur, mengalahkan suara mesin cuci.
“Euli mau sekolah sendiri, iih” ujarnya ketus. Berlari memakai
sandal ke sekolah. Meninggalkan Emak yang terpontang panting. Mesin cuci masih
menyala,
Aku melongo, Euli belum salim.







0 komentar