Ahad Kami di akhir Bulan Maret 2019


Ahad lalu family time kami diawali dengan sedikit prahara. Jilan, putri pertama kami meminta ke G******A. Tetapi ketika abahnya sudah siap mengantar, Jilan merasakan PMS yang luar biasa. Jilan tak mampu untuk bangkit dan memilih untuk terus berbaring. Padahal adik-adiknya sudah siap dengan kekuatan penuh untuk menikmati agenda jalan-jalan ke mall yang di luar jadwal kebiasaan. Di akhir pekan, agenda kami biasanya hanya mengunjungi nenek di hari Sabtu. Hari Ahad digunakan untuk siap-siap kegiatan menyongsong pekan depan, seperti mencuci baju dan menyetrika.

Karena Jilan membatalkan agenda ke toko buku, pilihan yang tersisa hanya ke MTC. Mall yang paling dekat dari rumah. Selain dekat, MTC juga memiliki fasilitas yang lengkap. Destinasi pun harus berubah, pilihan dijatuhkan untuk menonton Dumbo di bioskop.

Ketika kami tiba, jam tayang masih sekitar 1 jam lagi. Kami mengisi waktu menunggu dengan menikmati kuliner yang tersedia di Metro kitchen. Beraneka ragam makanan tersedia, tapi karena sudah makan siang, saya memilih baso tahu, sedangkan suami memilih pempek Palembang. Kedai nya bernama Kedai Rama.

Menurut saya, soal rasa tidak terlalu istimewa - entah karena saya masih kenyang. Mungkin pas lah dengan harga yang yang harus dibayar. Putri bungsu kami yang biasanya bersemangat menikmati baso tahu juga tampak ogah-ogahan. Akhirnya saya putuskan mencari sosis bakar kesukaannya.

Kami menemukan kedai sosis, untuk ukuran sedang harganya Rp. 15.000 sedangkan ukuran besar Rp. 20.000. Saya memilihkan sosis ukuran sedang, sementara suami tertarik dengan kedai yang menawarkan mie kocok di sebelah kedai sosis dan seblak.Saya memesan mie kocok biasa seharga Rp. 25.000. Ternyata rasanya enak sekali, mungkin karena suami yang membumbui. Lebih segar dari pempek yang saya coba barusan.















Waktu tinggal beberapa menit lagi, kami pun bergegas menghabiskan makanan dan segera menuju CGV. Jasmine mengambil pesanan popcorn dan milonya. Kami harus melewati ticket checker, sementara aku bergegas menuju ke kamar mandi. Tidak mau kenyamanan menonton terganggu karena hasrat ingin pipis. Keluar toilet, aku berdiri kebingungan. Di studio berapa ya harusnya kami menonton? Tadi lupa menanyakan di studio berapa kami akan menonton. Tak lama terdengar suara keras Jasmine memanggil. Wajahnya menyiratkan kecemasan yang teramat sangat. Ternyata Jovita juga harus membeli tiket. Jadi Abahnya mengantri tiket lagi. Jasmine tampak menyesali, kenapa tidak mengetahui hal tersebut sedari tadi. Aku mencoba menenangkannya, menegaskan bahwa bila ini yang memang harus dilalui ya dijalani saja.

Lumayan lama juga kami menunggu, untuk kemudian bisa masuk ke bioskop tepat ketika film dimulai. Jasmine berjalan di depan, dan menuntun adiknya ke tempat duduk yang salah. Abahnya mengambil inisiatif mengarahkan. Sepertinya tidak seluruh kursi terisi. Dalam gelap kami melangkah mencari kursi yang sudah ditentukan, yang bisa dilalui dengan mudah.

Tidak mudah mengajak Jovita (5th) menonton. Beberapa kali dia menanyakan kapan film akan selesai. Insiden tumpahnya popcorn juga terjadi di tengah ketakutannya melihat beberapa adegan yang sebenarnya tidak begitu menakutkan. Mungkin karena pengaruh audio yang begitu keras.

Setelah menonton, kami melanjutkan perjalanan menuju Jatinangor. Mengantar Jilan yang harus kembali ke kost, untuk kuliah besok. Perjalanan terhitung lancar, mungkin karena hari telah beranjak magrib. Jalur Cibiru- Jatinangor yang terkenal padat, kami lalui tanpa kendala.

Karena waktu makan malam telah tiba, suami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu. Sayang kami tidak bisa masuk ke Jatinangor Town Square, parkiran meluber sampai ke bahu jalan. Bergerak perlahan, akhirnya suami memilih rumah makan Sunda.

Parkiran yang luas tampak sepi, padahal ada rumah makan dan coffe shop. Tetapi ketika kami masuk ke rumah makan, ternyata banyak pengunjung yang sedang menikmati makan malam. Rumah makan itu amat luas, dengan pilihan area yang beragam. Bahkan anda bisa menikmati hidangan sambil lesehan.

untuk hidangan, Jilan memilih soto Bandung sementara Jasmine berkutat dengan udang asam manis. Abah tampak lahap menyantap jambal yang berhias petai hijau. Untuk minuman, Jasmine memilih coklat panas, cocok untuk menghangatkan malam yang mulai terasa dingin. Dari semua yang dihidangkan, hanya nasi yang ludes tak bersisa, yang lainnya harus kami bawa pulang. 

Fasilitas toilet dan cuci tangan tersedia di bagian depan. Mushola tersedia di bagian belakang, lengkap dengan kamar mandi dan tempat wudhu. Bagian yang berundak bisa anda lewati ketika menuju mushola.
Hari semakin larut, di tengah rintik hujan Jilan memutuskan menggunakan angkutan online untuk pulang ke kost. Kami pun langsung menuju tol Buahbatu

You Might Also Like

1 komentar

  1. Bunda rumahnya dibelah mana? Dulu aku ngekos belakang MTC soalnya dan pernah ngajar di mesjid sana juga. Oh ya ngomong -ngomong soql seblak bkin aku kangen bandung hiks. Di tangsel aku belum ketemu seblak seenak seblak bandung huhuhu

    BalasHapus