Neraka itu bernama Jalan Raya Margacinta-Ciwastra

Kota Bandung berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini. Tumbuhnya pusat-pusat perekonomian dan lapangan pekerjaan baru berimbas pada kebutuhan tempat tinggal yang lebih banyak.

Hal ini berimbas pada kawasan pinggiran Kota Bandung yang tadinya dipandang sebelah mata, karena dianggap tidak layak untuk menjadi kawasan perumahan. Bahkan sering dijadikan bahan lelucon, sebagai tempat jin beranak.

Kini di sepanjang Jalan Raya Margacinta-Ciwastra bahkan hingga Gedebage, berdiri berbagai komplek perumahan. Dengan penghuni yang rata-rata golongan kaum menengah ke atas yang memiliki minimal satu kendaraan roda empat, juga satu roda dua.

Keadaan ini membawa implikasi berupa kemacetan yang seolah tiada berujung, terutama pada jam-jam sibuk. Karena di sepanjang jalur Jalan Raya Margacinta-Ciwastra menjadi jalur keluar penghuni perumahan. Seperti pada pagi hari ketika saat masuk sekolah, dan sore hari ketika jam pulang kantor.

Menurut rekan saya, sebenarnya pelebaran Jalan Raya Margacinta-Ciwastra sudah direncanakan sejak tahun 1990 an. Namun entah menapa tidak berwujud hingga saat ini. Dimana jumlah kendaraan dengan kapasitas jalan sudah tidak memadai lagi.

Tidak hanya mengenai ruas jalan yang menjadi masalah, perilaku pengemudi juga turut menambah kekacauan laju lalu lintas. Hal ini terutama dilakukan oleh pengemudi kendaraan roda dua. Pengemudi kendaraan roda dua terbiasa terus melaju, merangsek hingga mengambil lajur sebelahnya. Melewati garis putus-putus yang dalam kondisi normal memang boleh dilalui. Akumulasi pengendara motor yang terus merangsek maju inilah yang kemudian menjadikan lalu lintas macet total.

Selain itu, sering penulis saksikan banyak pengemudi kendaraan roda empat yang harus rela keluar jalur, minggir hingga ke bahu jalan agar tidak terjadi kecelakaan. Suatu ketika rekan penulis yang menggunakan becak untuk berangkat ke sekolah bercerita bahwa Ia telah memarahi para pengendara kendaraan roda dua yang mengambil lajur becaknya. Beliau tiba di sekolah dengan amarah yang tak terhingga.

"Punya kendaraan tapi otak tak digunakan" ujarnya keras.

"Asal sendirinya lancar, orang lain jadi terhambat. Akhirnya macet total." Lanjutnya lagi.

Dapat penulis rasakan kemarahan dalam diri beliau, mungkin juga dirasakan banyak pengguna jalan lain di jalur itu. Setiap hari, minimal 5 hari dalam seminggu. Kelelahan fisik dalam menempuh perjalanan ditambah kelelahan fsikis berupa kemarahan baik terhadap kemacetan atau pengendara lain tentu berbahaya bagi setiap individu.

Sudah saatnya kita semua, mencari solusi bagi keadaan ini. Dimulai dari diri, keluarga, hingga tetangga. Karena kita sama, warga Bandung yang mendambakan kenyamanan.

Apa yang dapat Kita lakukan?

Sebagai warga Kota yang mencintai kotanya, marilah Kita lakukan beberapa Hal berikut ini:

1. Gunakan transportasi umum

2. Patuhi peraturan lalu lintas. Usahakan tidak melewati garis-garis putus di tengah jalan


You Might Also Like

0 komentar