Orangtua mengenalkan dunia
literasi sejak saya masih kecil. Secara ekonomi sebenarnya kami tidak hidup
berlebih, tapi langganan koran menjadi pengeluaran utama. Bukan sembarang
koran, tapi harian Pikiran Rakyat yang hingga saat ini konsisten menyajikan
berita dalam bahasa yang baku.
Biasanya, ketika Rahimahullah Apa -begitu kami memanggil ayah kami-
pulang kantor, kami akan berebut menyambutnya. Berebut membuka kaos kakinya,
karena siapa yang lebih dahulu membukakan kaos kakinya berarti ia membaca koran lebih dahulu daripada yang
lainnya.
Rahimahullah Ibu, juga tidak
kalah andilnya. Seingat saya, tidak banyak beban pekerjaan rumah dituntutnya.
Beliau malah lebih sering menyuruh belajar. Pekerjaan rumah dibagi diantara
kami berlima, menyapu-mengepel, mencuci piring, menyetrika, dan menyapu
halaman. Hanya itu.
Koran terus menjadi rebutan kami,
hingga suatu saat rekan kuliah Rahimahullah Apa
membawakan buku-buku. Ayah beliau bekerja di Dinas Pendidikan, begitu tahu
bahwa kami haus bacaan, dengan senang hati setiap minggu beliau membawakan kami
buku-buku baru.
Salahsatu buku yang paling
berkesan, ialah buku mengenai Italia. Mengenai sungai Venesia dengan
gondola-gondolanya. Italia terus terekam dalam ingatan. Sayangnya keinginan
tidak berbanding lurus dengan usaha, jadi hingga kini tetap hanya sekedar
keinginan.
Di usia yang tak lagi muda, kota
impian yang ingin dikunjungi pun berubah. Saat ini, yang selalu terbayang di
pelupuk mata adalah kota Makkah al Mukarramah. Kota yang menurut saya penting
dikunjungi dalam usia muda sebenarnya. Harapan saya, keempat puteri saya bisa
merasakan mengunjungi kota penting bagi umat Islam ini dalam usia muda,
mudah-mudahan dengan demikian pengalaman keagamaannya lebih kuat.
Mengapa ingin mengunjungi Makkah
al Mukarramah :
- Makkah al Mukarramah merupakan kota kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dimana sejarah perkembangan Islam bermula.
- Sebagian besar pelaksanaan ritual Ibadah Haji dan Umrah dilakukan di Makkah al Mukarromah
- Makkah dan Madinah merupakan kota yang tidak akan bisa dimasuki Dajjal.






0 komentar