Sebagai wali kelas, salahsatu tugas utama adalah membagikan hasil belajar siswa. Kali ini berupa Lembar Hasil Belajar Siswa tengah semester genap Tahun Pelajaran 2018-2019.
Tidak terasa setengah perjalanan telah kami lewati bersama. Saatnya bersilaturahim dan mengevaluasi apa yang telah dilakukan, untuk memaksimalkan setengah perjalanan yang tersisa.
Kesibukan membuat saya lupa mengatur acara. Tapi walau dadakan, ternyata anak-anak bersedia membawakan acara. Ketika saya menawarkan siapa yang bersedia menjadi pembawa acara, tampak terlihat anak-anak yang memiliki kepercayaan diri tinggi. Menurut saya, ini hal yang positif. mengingat besar kemungkinan mereka untuk mempermalukan diri. Dan mereka berani menanggung resiko itu.
Salwa dan Salma berkenan menjadi pembawa acara.
Sedangkan M. Faqih dan Daffa Devara memandu acara berdoa
Septy menjadi dirigen lagu Indonesia Raya
Susunan acara terdiri dari:
1. Pembukaan
2. Do'a
3. Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
4. Laporan Wali Kelas
5. Penutup
6. Penyerahan LHBS
Keberanian Salwa dan Salma memandu acara patut diacungi jempol, walau beberapa kali ada kekikukan. Salma sepertinya terbiasa tampil, terlihat dari bahasa resmi yang dia gunakan.
Untuk doa, karena tidak dituliskan maka terlihat kekakuan, bingung apa yang hendak dikatakan. Tapi tetap saja harus saya acungkan jempol.
Septy sebagai dirijen tampil percaya diri. Mudah-mudahan ini dampak pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum KBM. Sayang. satu bait terlupa. Salah seorang ibu wali murid mengoreksi.. Alhamdulillah
Ketika pembawa acara mempersilahkan saya menyampaikan laporan, saya membacakan pesan Kepala Sekolah yang telah dipersiapkan Wakasek Kurikulum.
Sebagai penutup, MC mengajak membaca hamdalah bersama-sama.
Ketika akan membagikan LHBS, saya menawarkan apakah akan berurutan sesuai absen atau sesuai kedatangan.? Ternyata banyak suara yang menginginkan berdasarkan absensi.
Penyerahan LHBS kali ini saya anggap penting, mengingat Penilaian Akhir Tahun yang sebentar lagi harus dihadapi anak-anak. Jadi, saya meminta izin orangtua untuk memberikan waktu lebih banyak untuk saya berdiskusi dengan orangtua setiap siswa. Saya mencoba menggali apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah yang mungkin ada.
Sesi ini ternyata memakan waktu, hingga beberapa orangtua meminta didahulukan karena hendak bersiap melaksanakan shalat Jum'at.
Terburu-buru, saya panggil dua orangtua sekaligus. Qadarullah, keduanya adalah orangtua dari siswa yang pernah bermasalah. Seorang siswi mengadu karena merasa di bully. Saat itu, saya sudah mencoba menangani. Tapi ternyata siswi yang bersangkutan merasa belum ada perubahan, hingga beberapa kali mengadu. Karena tidak ada bukti, saya minta siswi tersebut menjaga jarak. Menghindari sang siswa.
Akhirnya saya konsultasikan dengan kedua orangtua siswa dan siswi tersebut. Saya berharap orangtua memahami apa yang terjadi di sekolah, dalam pergaulan putra-putrinya. Lebih jauh saya berharap adanya penguatan dari orangtua atas tindakan yang telah saya lakukan dalam menangani masalah ini.
Dari pertemuan ini, banyak hikmah yang saya dapatkan. Saya lihat wajah-wajah yang menaruh harapan besar akan kesuksesan putra-putrinya. Merekalah sesungguhnya guru-guru utama dan pertama anak-anak yang saat ini saya dampingi di kelas.
Seorang Ibu membuat saya harus tersenyum getir, membayangkan perjuangannya terus mendukung putranya yang dibully ketika SD. Bapak yang lain menyeret saya dalam kegetiran ketika putranya menjawab pertanyaan saya tentang harapannya. Sang anak menjawab, "ingin bapak punya kerja".
SubhanAllah.
Catatan:
Tindakan saya memanggil dua orangtua putra-putri bermasalah ternyata berlanjut. Sang siswa terus merasa disalahkan karena menurut dia, bukan hanya Ia yang membully siswi tersebut. Ia protes. kenapa harus Ia yang dipanggil ke depan. Hal ini saya ketahui ketika Pembinaan Wali Kelas terakhir bulan April. Saya meminta maaf. Saya katakan, bahwa saya tidak bermaksud mempermalukan. Saya sedang mencari solusi, saya juga memanggil nama-nama yang Ia sebutkan sebagai pembully lainnya.
Saya tegaskan di hadapan mereka, pelajaran yang harus diambil sebagai konsekuensi membully orang lain. Saya sungguh berharap mereka dapat memahami.







0 komentar