Menikmati kota Bandung di hari libur bisa dengan menikmati nasi ketan khas Padang yang membuka lapak di kawasan Monumen Perjuangan.
Sebenarnya saya bukan orang Padang, tapi tantangan mencoba kuliner baru seirama dengan kenekatan saya menjajal dunia blogging. Hajar terus.
Ketika tiba, dua kursi kanan dan kiri sudah tersedia, tinggallah di tengah-tengah. Jadi saya duduk diantara Uni dan Uda yang sedang asyik mengobrol dalam bahasa yang tidak saya pahami.
Keterasingan saya tereliminir dengan hadirnya segelas air putih dan mangkok air cuci tangan, disusul dengan sepiring nasi ketan yang berhias parutan kelapa dan pisang goreng. Oh ya, saya juga memesan teh telur. Kepalang basah he..he..
Dan ini dia pesanan saya
Rasa ganjil melihat tampilan nasi ketan berpadu dengan goreng pisang hilang seketika. Rasanya mantap ternyata, manisnya pisang menambah rasa legit pada nasi ketan. Hal yang wajar karena pisang yang digunakan ternyata pisang tanduk, yang terkenal memiliki rasa yang nikmat.
Tantangan justru ada ketika harus menyeruput teh telur. Teh yang dicampur kuning telur bebek, gula aren, gula putih, dan susu masih menyisakan bau amis yang menyengat ketika di hidangkan. Jadi butuh perjuangan yang cukup besar buat saya, padahal sudah ditetesi air jeruk. Dengan menahan napas, teh telur pun habis disikat. Akhirnya.
Untuk harga, nasi ketan per porsi Rp. 10. 000, demikian pula dengan teh telur.
Sedikit review, harga terjangkau, tempat mudah ditemukan, rasa mantap, pelayanan bagus. Kekurangan yang terlihat hanya dari segi pengelolaan sampah yang belum tertata dengan baik. Sehingga kesan kumuh sangat kental. Seandainya sampah kulit pisang langsung dibereskan, sepertinya akan lebih nyaman.
Last but not least. patut dicoba lah. Apalagi kalau sama saya he...he...
Last but not least. patut dicoba lah. Apalagi kalau sama saya he...he...









0 komentar